Pendidikan jepang : Siswa Jenius Jepang berakhir menjadi Supir Truk

0

Pendidikan Jepang – Jika mungkin kamu termasuk orang simpatik terhadap putra putra bangsa yang memiliki potensi namun tidak mendapatkan dukungan maksimal dari pemerintah, berita ini cukup mengejutkan. Seorang siswa jenius Jepang berakhir sebagai supir truk karena Jepang tidak bisa menampung potensinya dengan baik.

 

Berita ini ramai terdengar berawal dari cuitan seorang netizen Jepang melalui Twitter. Dia menceritakan kisah seseorang pemuda yang memiliki kepintaran di atas rata-rata dan menjadi siswa jenius di bidang fisika. Pemuda ini dalah orang Jepang pertama yang mendapatkan program akselerasi kelas dan memungkinkan dia langsung menjadi mahasiswa di Universitas Chiba.

Karir akademisnya yang gemilang ini membuat dia dijanjikan kehidupan yang nyaman dan hal ini pulalah yang membuatnya memutuskan untuk menikah dan memiliki anak ketika masih menjadi mahasiswa. Tapi sepertinya harapan tinggal harapan.

Setelah lulus, dia mencurahkan semua waktu dan tenaganya untuk penelitian fisika mutakhir. Pekerjaan dan penelitian yang kemudian menjadi kesibukan sehari-harinya ini ternyata hanya dihargai gaji tidak stabil dengan kisaran 200.000 Yen perbulannya.

Merasa tereksploitasi dengan kehidupannya sebagai budak laboratorium, dia banting setir dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Pekerjaan berikutnya yang dia pilih cukup mengejutkan, yaitu menjadi supir truk.

Walaupun kelihatannya lebih tidak keren, tapi pekerjaan barunya sebagai supir truk ini memberikan kesempatan bagi pemuda ini untuk mensuport keluarganya. Pekerjaan yang dia lakukan selama 12 jam sehari ini setidaknya memberikannya gaji stabil di angka 300.000 Yen perbulannya.

Lebih jauh lagi, dengan menjadi supir truk, setidaknya dia bisa berkumpul dengan keluarganya untuk makan malam setiap harinya. Pemuda ini juga mengaku bisa membeli rumah dari tangan kedua dengan penghasilannya.

Kasus di pendidikan jepang ini mengundang berbagai pendapat dari netizen Jepang. Beberapa diantaranya adalah:

“Perusahaan Jepang tuh kacau banget, mereka bahkan nggak bisa menyediakan support untuk potensi sebesar ini. Mendingan dia kerja di luar negeri”

“Aku jadi kepikiran, tapi selama dia bahagia kayaknya nggak papa sih ya”

“Belajar dan bekerja adalah 2 hal yang berbeda, menjadi peneliti sepertinya bukanlah keahlian yang dimilikinya”

“Masalahnya kayaknya bukan di dia, ini masalah perguruan tinggi di Jepang. Dia nggak dilatih dengan layak”

“Cara pandang masyarakat ini udah berbelok. Kepintaran seseorang tuh beda dengan kemampuan seseorang dalam penelitian”

Bagaimana menurut pendapat kalian nih? apakah siswa jenius kayak gini pantas tersiasiakan?

Ojiisan
Laki-laki di penghujung duapuluhan yang menolak dianggap tua
Share.

About Author

Ojiisan

Laki-laki di penghujung duapuluhan yang menolak dianggap tua

Leave A Reply