Lima Warga China Ditangkap Karena Melakukan Scanlation Manga Ilegal.

0

Kepolisian gabungan prefektur Kyoto, Yamaguchi, Shizuoka, Mie dan Shimane mengumumkan penangkapan besar terhadap kelompok scanlation yang melakukan translasi ke bahasa China dan distribusi ilegal manga dan game.

Kelompok beranggotakan 5 orang warga negara China berusia 23 hingga 28 tahun ini ditangkap dengan tuduhan telah melakukan translasi dan distribusi manga Kimi ni Todoke dan game Yu-Gi-Oh! serta beberapa judul lain. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa asing di beberapa universitas di Jepang dan 2 orang dari mereka adalah mahasiswi Nagoya University.

Berdasarkan laporan yang dirilis kepolisian, grup scanlation ini terdiri atas sukarelawan yang berkumpul secara online. Pimpinan dari grup tersebutlah yang nantinya akan mengkoordinasi para anggota dan membagi tugas. dua mahasiswi Nagoya yang ditangkap adalah bagian penerjemah dan mengirimkan data ke China. Penangkapan dilakukan setelah ditemukannya bukti post oleh salah satu anggota di Weibo, platform media sosial mirip Twitter di China.

Pihak kepolisian menambahkan, grupini dituntut pelanggaran hak cipta dengan melakukan penerjemahan dan distribusi ilegal manga dan game dari tahun 2015 hingga 2018. Dalamkurun waktu 3 tahun ini mereka telah mendistribusikan kurang lebih 15.000 judul manga ke dalam bahasa China. Pihak kepolisian masih mencari kemungkinan kelompok ini terkait dengan kelompok atau proyek lain.

Pada tahun 2013, Departemen Kebudayaan Jepang merilis tentang kerugian Jepang dikarenakan distribusi ilegal game, anime, dan manga ke China adalah sekitar 3,8 trilliun yen atau sekitar 35 milyar dolar Amerika.

scanlation

Para tersangka dituntut dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda maksimal 10 juta yen. Tuntutan bisa saja berkembang dengan tambahan hukuman ganti rugi atas kerugian yang didapatkan perusahaan dan perintah untuh menghapus semua berkas.

Ojiisan
Laki-laki di penghujung duapuluhan yang menolak dianggap tua
Share.

About Author

Ojiisan

Laki-laki di penghujung duapuluhan yang menolak dianggap tua

Leave A Reply