Kapal Hantu Korea Utara Terdampar di Jepang

0

Pihak berwenang Jepang mengatakan, total ada 18 jenazah telah ditemukan dalam kapal hantu tersebut sepanjang tahun 2017, sedangkan 42 orang dinyatakan selamat.

Sepanjang bulan Desember 2017 saja, sudah ada empat kapal hantu terdampar di pantai barat Jepang. Beberapa di antaranya hanya berisi jasad manusia.

Sementara, otoritas perairan Jepang masih belum dapat mengonfirmasi asal-usul keempat kapal itu. Diduga, kapal-kapal tersebut adalah milik nelayan dari Korea Utara. Sebanyak delapan kerangka manusia ditemukan di lambung kapal kayu yang mendarat di pantai Miyazawa, di barat laut pulau utama Jepang, Honshu.

“Fenomena seperti ini masih akan terus berlanjut,” imbuhnya.

Berikut data yang diperoleh berdasarkan laporan petugas berwenang Jepang:

15 November: tiga warga Korea Utara diselamatkan oleh penjaga pantai Semenanjung Noto di Ishikawa.
17 November: empat jenazah ditemukan dalam kapal sebuah kapal yang terdampar di lokasi yang sama.
23 November: delapan warga Korea Utara diselamatkan setelah sebuah kapal terdampar di Akita.
27 November: delapan kerangka manusia ditemukan di dalam lambung kapal di pantai Akita.

Kapal ini dijuluki kapal hantu karena tak ada armada yang mengawaki atau hanya berisi mayat saat ditemukan terdampar di pantai Jepang.

Pada November 2017, delapan orang ditemukan hidup-hidup di sebuah perahu di Yurihonjo. Mereka mengaku sebagai nelayan dari Korea Utara yang menemui kendala saat melaut. Sebagian besar kapal terdampar ini telah usang, sangat sederhana, dan tanpa mesin modern atau navigasi.

Di kapal tersebut, ditemukan beberapa tanda. Tanda tersebut mengindikasikan mereka adalah anggota militer Korea Utara yang bertugas dalam industri perikanan. Salah satu perahu yang diselamatkan pada bulan November memiliki sebuah plakat yang menunjukkan bahwa kapal tersebut milik militer.

Saat kapal berisi jenazah tersebut terdampar, pejabat Jepang biasanya akan mencoba menyelidiki penyebab awak kapal tersebut. Tapi karena mayat-mayat itu kebanyakan dalam kondisi yang sudah sangat mengenaskan karena lamanya terombang-ambing di laut, petugas mengalami kesulitan saat melakukan identifikasi.

Pelayaran dalam musim dingin dan persediaan makanan yang terbatas yang menyebabkan kelaparan diduga menjadi faktor utama kematian mereka. Ditambah, kapal yang digunakan adalah perahu kayu tua, berat dan tidak memiliki mesin modern GPS.

 

Ai
Wanderlust. Love to learn. About everything!
Share.

About Author

Ai

Wanderlust. Love to learn. About everything!

Leave A Reply